Menu

Mode Gelap

NEWS Netsatu.com · 29 Mei 2026

Kampus Bukan Dapur Negara: Tolak Penjajahan Kekuasaan Atas PerguruanTinggi


					Kampus Bukan Dapur Negara: Tolak Penjajahan Kekuasaan Atas PerguruanTinggi Perbesar

SUMENEP, NETSATU.COM.- Kampus bukan perusahaan katering negara. Kampus adalah ruang intelektual yang dibangun untuk melahirkan ilmu pengetahuan, membentuk daya kritis, dan menjaga keberanian moral dalam mengoreksi kekuasaan. Karena itu, dorongan agar perguruan tinggi mengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah yang patut dipertanyakan secara serius.

Dalam peresmian dapur MBG di Universitas Hasanuddin, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mendorong kampus memiliki dapur MBG dan terlibat langsung dalam rantai pelaksanaan program. Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana negara mulai menyeret kampus masuk ke wilayah operasional kebijakan pemerintah, bukan lagi sekadar sebagai mitra akademik, tetapi sebagai alat pelaksana program negara.

Masalahnya bukan sekadar soal dapur. Masalah utamanya adalah arah politik pendidikan tinggi hari ini. Ketika kampus mulai dijadikan instrumen pelaksana program kekuasaan, maka independensi akademik perlahan dipreteli. Kampus yang seharusnya menjadi pengawas kebijakan publik justru diarahkan menjadi bagian dari mesin birokrasi negara. Akibatnya, fungsi kritis perguruan tinggi terancam lumpuh karena terlalu sibuk mengurus proyek administratif.

Lebih berbahaya lagi, program seperti ini berpotensi membentuk normalisasi bahwa seluruh sumber daya kampus mahasiswa, dosen, fasilitas, bahkan legitimasi akademik dapat digunakan untuk menopang agenda pemerintah. Ini adalah bentuk pelemahan halus terhadap otonomi kampus. Pendidikan tinggi akhirnya tidak lagi diposisikan sebagai kekuatan moral yang independen, tetapi sebagai perpanjangan tangan kekuasaan yang dibungkus narasi pengabdian sosial.

Mahasiswa masuk kampus untuk membangun tradisi berpikir kritis, bukan menjadi tenaga pendukung proyek negara. Dosen hadir untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, bukan dipaksa menyesuaikan diri dengan orientasi program populis pemerintah. Jika hari ini kampus diminta mengelola dapur MBG, bukan tidak mungkin besok kampus akan semakin jauh terseret menjadi operator berbagai proyek politik negara lainnya.

Negara tidak boleh menjadikan kampus sebagai tameng legitimasi kebijakan. Sebab kampus yang terlalu dekat dengan kekuasaan akan kehilangan keberanian untuk mengkritik kekuasaan itu sendiri. Sejarah membuktikan bahwa ketika perguruan tinggi kehilangan independensinya, yang lahir bukan lagi intelektual pembebas, melainkan birokrat akademik yang tunduk pada kepentingan politik.

Kami menolak kampus dijadikan alat operasional program pemerintah.

Kami menolak pendidikan tinggi direduksi menjadi ruang administrasi proyek kekuasaan.

Dan kami percaya, kampus harus tetap berdiri sebagai benteng intelektual rakyat bukan dapur negara yang kehilangan daya kritisnya.

( Red/Tris)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Kurban Idul Adha 2026, Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura

29 Mei 2026 - 12:32

Tindakan Kekerasan oknum Brimob terhadap Warga Sipil di Desa Alor Besar NTT, Publik Desak Penindakan Tegas terhadap Oknum Brimob

28 Mei 2026 - 05:14

Foto: Tindakan Kekerasan Oknum Brimob Terhadap Warga Sipil di Desa Alor Besar NTT

Sambut Idul Adha 1447 H, Lapas Batam Sembelih 8 Hewan Qurban

28 Mei 2026 - 04:53

Budi Jhon Ketua PAC PDI Perjuangan Batuan Sumenep Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H

26 Mei 2026 - 15:16

Foto : Hendra Budi Yanto Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Batuan Sumenep Madura Jawa Timur

Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol.

26 Mei 2026 - 08:43

Foto : Fauzi As

Kalapas Batam Pimpin Razia Gabungan, APH dan Satopspatnal Sisir Kamar Hunian Warga Binaan

26 Mei 2026 - 06:22

Trending di NEWS Netsatu.com

Sorry. No data so far.