Menu

Mode Gelap

Hukum & Kriminal · 15 Okt 2025

Badrul Aini Kutuk Arogansi Oknum Aparat di Pulau Sadulang, “Jangan Biarkan Rakyat Mati Ketakutan”


					Foto : Badrul Aini Perbesar

Foto : Badrul Aini

SUMENEP, NETSATU.COM,– Suasana duka menyelimuti Pulau Sadulang, salah satu pulau terpencil di Kepulauan Sapeken. Seorang ibu dikabarkan meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung ketika sejumlah aparat kembali mendatangi lokasi sengketa tanah yang tengah memanas di wilayah tersebut. Tragedi ini mengguncang hati banyak pihak, termasuk tokoh masyarakat dan pemerhati kepulauan, Badrul Aini, yang angkat bicara keras menentang dugaan intimidasi terhadap warga sipil.

Dalam keterangannya, Badrul Aini menyampaikan rasa duka yang mendalam sekaligus mengutuk tindakan arogansi aparat yang dinilainya telah menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat kecil.

> “Saya tidak akan ikut campur dalam urusan sengketa tanah itu. Biarlah hukum bekerja. Tapi saya tak bisa diam melihat ada rakyat kecil meninggal dunia karena ketakutan di hadapan orang berseragam. Ini sudah melampaui batas kemanusiaan,” ujarnya dengan nada getir.

Tragedi di Tanah Sengketa

Kasus ini berawal dari sengketa lahan di Pulau Sadulang, Kecamatan Sapeken, yang disebut-sebut melibatkan dugaan cacat administrasi dalam penerbitan sertifikat tanah. Sejumlah warga menuding ada surat perintah pengukuran tanah dari pertanahan yang telah kedaluwarsa, namun tetap digunakan untuk melakukan pengukuran ulang lahan.

Ketegangan pun meningkat setelah beredar video yang memperlihatkan kehadiran aparat berseragam dalam kegiatan di lokasi tersebut. Warga menyebut, kedatangan aparat itu bukan hanya menimbulkan rasa tidak aman, tetapi juga ketakutan mendalam di kalangan penduduk setempat yang sebagian besar adalah nelayan dan petani kecil.

Salah satu warga, Dendi, menceritakan bahwa ibunya, seorang perempuan paruh baya, meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung di tengah situasi menegangkan itu.

> “Hari Senin, tanggal 13 Oktober, setelah banyak aparat datang lagi ke pulau kami. Mereka datang ke lokasi tanah sengketa dan ada yang bilang kepada saya, ‘kamu akan saya bawa’. Saat itu ibu saya langsung kaget, gemetar, dan tak lama kemudian jatuh sakit. Kami bawa ke puskesmas Sapeken, tapi nyawanya tak tertolong,” tutur Dendi dengan suara bergetar.

> “Kami akan melaporkan semua pihak yang terlibat. Kami hanya rakyat kecil, tapi kami punya harga diri. Seragam itu dibeli dari pajak rakyat — termasuk pajak kami, orang pulau,” imbuhnya.

Badrul Aini: Biar Ini Jadi Pelajaran untuk Semua

Menanggapi peristiwa tersebut, Badrul Aini menegaskan bahwa dirinya tidak ingin masuk ke ranah sengketa tanah yang menjadi pokok persoalan. Namun ia menyoroti perilaku aparat dan pihak-pihak yang memanfaatkan kekuasaan untuk menekan rakyat kecil.

> “Ada sertifikat tanah yang diduga cacat prosedur, ada tukang ukur yang pakai surat tugas kadaluarsa — biarlah semua itu diselidiki oleh Tim Pemberantasan Mafia Tanah di Jakarta. Tapi yang kami sesalkan, ada oknum yang justru mengundang aparat dan menjadikannya alat tekanan,” tegasnya.

> “Apakah karena mereka orang pulau? Karena mereka miskin? Karena pendidikan mereka rendah? Lalu mereka bisa ditakut-takuti begitu saja? Apakah nyawa seorang ibu di Sadulang begitu murah hingga bisa hilang hanya karena ketakutan?”

Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama bagi lembaga dan pejabat terkait di Kabupaten Sumenep.

> “Kita ini bicara soal rasa keadilan, soal kemanusiaan. Jangan jadikan seragam sebagai alat untuk menindas. Rakyat kecil pun punya hak untuk hidup tanpa rasa takut,” ujarnya menutup pernyataan.

Harapan Keadilan dari Pulau Terpencil

Kini, warga Pulau Sadulang menanti tindak lanjut dari pihak berwenang atas laporan yang mereka rencanakan ke tim pusat pemberantasan mafia tanah di Jakarta. Mereka berharap tragedi yang menimpa keluarga Dendi menjadi yang terakhir, dan tidak ada lagi rakyat yang meninggal karena rasa takut di tanah sendiri.

Di tengah langit biru dan ombak laut yang mengelilingi Pulau Sadulang, suara warga kecil kini menggema dengan satu pesan yang sederhana namun menggugah:

Kami orang pulau, kami miskin, tapi kami manusia. Jangan lagi ada yang mati karena takut.” tutupnya.

 

(Redaksi)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Delay 7,5 Jam Super Air Jet di Bandara Dhoho Kediri Berujung Polemik: Penumpang Rekam Kondisi Justru Dituduh Provokator?

19 Agustus 2026 - 02:13

Foto : Delay 7,5 Jam Super Air Jet di Bandara Dhoho Kediri Berujung Polemik: Penumpang Rekam Kondisi Justru Dituduh Provokator

Pimpinan Redaksi Media Netsatu Apresiasi Penuh Pelayanan RSUD dr.H.Moh.Anwar Sumenep

18 Agustus 2026 - 06:27

Foto : kiri Direktur RSUD Sumenep, dr.Hj.Erlyati, M.Kes., Kanan Pimpinan Redaksi Media Netsatu.com. Dafid Jauzi, S.Pd.I

Momentum HUT RI Ke-81, Direktur RSUD dr.H.Moh.Anwar Sumenep; Nilai Perjuangan Pahlawan Diwujudkan Dengan Pengabdian Tulus dan Kerja Nyata Serta Berikan Manfaat Kepada Masyarakat 

18 Agustus 2026 - 06:12

Meriah! Begini Aksi Santri Ponpes Wali Barokah Kota Kediri Rayakan HUT ke-81 RI

18 Agustus 2026 - 04:56

Foto : Suasana HUT RI ke-81 Di Ponpes Barokah LDII kota Kediri Jawa Timur

Rayakan HUT RI Ke-81: RSUD dr.H.Moh.Anwar Sumenep Ikuti Lomba Dangdut Agustusan Antar Instansi Dihalaman Kantor Bupati

18 Agustus 2026 - 03:58

Dharma Wanita Persatuan RSUD dr.H.Moh.Anwar Sumenep Raih Prestasi Ajang Lomba Lagu Daerah Nusantara

18 Agustus 2026 - 03:19

Trending di Kesehatan

Sorry. No data so far.