SUMENEP, NETSATU.COM,- Beberapa hari ini, WhatsApp saya ramai. Banyak pesan masuk yang harus saya jawab satu per satu. Rupanya, sedang ramai isu tentang demo menolak migas di Kangean.
Yang bikin saya heran—dan jujur, juga sedih—adalah banyak orang yang terprovokasi padahal mereka bahkan tidak punya HP, tidak main WA, tapi ikut demo karena katanya “tanah akan rusak”, “laut akan tercemar”, “ikan akan hilang”, dan yang paling menyayat hati: “Bagaimana nasib anak cucu kita nanti?”
Saya paham, ini soal kekhawatiran. Wajar. Tapi mari kita pisahkan mana fakta, mana asumsi. Apalagi kalau sudah dicampur hoaks dari media sosial yang tidak bertanggung jawab. Ada yang unggah foto pohon kelapa mati, katanya dari Pagerungan, padahal itu gambar dari Google. Lucu, iya. Tapi juga menyesatkan.
Seolah-olah bumi Kangean ini sudah di ambang kiamat.
Karena banyak yang bertanya dan saya pun ingin tahu lebih jauh, saya akhirnya nekat menelpon seorang teman. Dia anak asli Kangean, kini kerja di perusahaan migas di Dubai. Anak laok jang-jang, tapi wawasannya dalam. Kami berdiskusi panjang soal apa dampaknya jika di Kangean ditemukan cadangan migas dan nanti dilakukan pengeboran.
Dia menjelaskan:
> “Sekarang ini di Kangean baru tahap survei, belum ngebor. Kalau nanti ditemukan cadangan migas, itu pengeborannya jauh ke dalam perut bumi, bisa 2 sampai 4 kilometer ke bawah. Sedangkan akar pohon kelapa paling cuma 5 meter, padi dan jagung cuma 1 meter. Jadi, tidak akan ada dampak ke pertanian. Lagipula lokasi migas Kangean itu ada di laut. Sama sekali gak ganggu petani.”
Saya diam, mencerna. Masuk akal.
> “Untuk nelayan juga tidak ngaruh. Saya sendiri sering mancing di sekitar rig pengeboran, malah ikannya banyak. Ini semua hanya salah paham karena kurangnya sosialisasi, bukan karena migasnya bahaya.”
Lalu dia mulai bicara tentang peluang.
> “Bayangkan Kangean bisa pakai gasnya sendiri untuk pembangkit listrik. Gak usah pakai solar yang hidup mati, hidup mati. Kalau listrik sudah stabil, kita bisa bangun industri: pabrik es, pengalengan ikan, pupuk untuk petani. Jangan biarkan ikan-ikan kita malah dibeli murah oleh nelayan luar karena kita gak punya fasilitas sendiri.”
Saya mulai terbawa. Apalagi saat dia lanjut:
> “Tenaga kerja Kangean banyak, bro. Tapi banyak yang merantau ke Malaysia. Kenapa? Karena di sini gak ada lapangan kerja. Padahal, kalau ada industri berbasis migas, bisa serap ribuan orang. Satu pabrik pengalengan ikan bisa tampung 3.000 orang. Bikin tiga pabrik? Sudah 9.000 orang kerja. Belum yang lain.”
Dengan adanya Industri Migas, kita juga bisa bangun Bandara. Bayangkan, orang Kangean yg ingin Ke Malaysia, atau keluar daerah tak perlu lagi menempuh perjalanan laut yg panjang dan melelahkan, langsung terbang dari tanah sendiri bro. Ini soal akses, soal kemajuan.
Dan yang paling penting:
> “Pastikan titik pengeboran (basecamp) migas itu ada di darat, bukan di laut. Kalau di laut, Kangean cuma dapat bagi hasil 2%. Tapi kalau di darat, jauh lebih besar. Perjuangkan itu! Paksa bupati, dewan, agar lokasi ada di darat. Karena bagi perusahaan migas, laut atau darat itu sama saja. Tapi bagi rakyat Kangean, itu masa depan.”
Saya kaget. Tapi ini logis.
> “Contoh kecil saja: Bojonegoro. Dulu biasa saja, sekarang kelebihan anggaran Rp2 triliun per tahun. Bingung mau dipakai buat apa. Jalan mulus semua. Bahkan sampai ngasih hibah ke kabupaten tetangga. Bayangin kalau Kangean dapat Rp1 triliun per tahun? Bisa bangun jalan, beasiswa gratis, bantuan modal petani dan nelayan, dan pendidikan gratis dari PAUD sampai perguruan tinggi.”
Saya terdiam. Lalu hanya bisa bilang:
“Aduh…”
Mimpi lama tentang Kangean sebagai kabupaten mandiri tiba-tiba hidup kembali. Dengan migas, semoga bukan hanya mimpi. Semoga memang ditemukan cadangan besar di tanah kelahiran kita. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Kita harus cerdas. Kita harus paham. Kita harus bersatu.
Merdeka!
Abu usamah.








