SUMENEP, NETSATU.COM – Ironi terjadi di tengah program bantuan perumahan yang digulirkan pemerintah. Sepasang suami istri (pasutri) yang tinggal di Jalan Anugerah, Dusun Polay, Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, justru hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, jauh dari kata layak.
Diketahui Pasangan suami istri tersebut adalah Bapak Sadimin dan Ibu Hanna, dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh tani serabutan. Mereka hidup sebatang kara, jauh dari perhatian pemerintah setempat, pasutri tersebut menempati sebuah gubuk yang berukuran sekitar 5 meter persegi. Dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu (gedek), tanpa atap permanen, tanpa listrik, dan tanpa kamar mandi. Fasilitas sanitasi pun sangat darurat, hanya berupa jamban yang ditumpuk dengan batu bata.

Foto : Potret Kamar Mandi Yang Terkesan Sangat Tidak Layak Pakai.
Saat tim redaksi Netsatu.com menyambangi kediaman mereka, terlihat jelas kondisi rumah yang tak layak huni itu. Ibu Hanna dengan mata berkaca-kaca mengisahkan perjuangan mereka dalam menjalani hidup sehari-hari.
“Kaule odik kaduwe’en nika pak, korla bisa ade’er resa arenah. Se kade’erre gik tang taotang, kadeng minta ka nak potoh,” ucapnya lirih.
(Kami hidup berdua ini, pak. Asal bisa makan saja sudah bersyukur. Bahkan makanan pun sering ngutang, kadang minta ke anak).
Cerita pilu ini mencuat di tengah ramainya isu dugaan penyimpangan dalam program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang kini menjadi sorotan di Sumenep. Ironisnya, pasutri seperti Sadimin dan Hanna yang seharusnya menjadi prioritas penerima manfaat, justru tak tersentuh bantuan apapun hingga kini.
“Padahal tetangga sekitar banyak yang dapat, sementara kami kok belum tersentuh ya pak?,” tanyanya.
Warga sekitar dan pemerhati sosial mendesak agar Pemerintah Kabupaten Sumenep segera turun tangan untuk melihat langsung kondisi mereka dan memberikan bantuan nyata, bukan sekadar janji. Keberadaan gubuk derita yang dihuni Sadimin dan Hanna seharusnya menjadi tamparan keras bagi instansi terkait agar lebih jeli dan adil dalam menyalurkan bantuan.
Di tengah isu skandal BSPS yang mencuat, kisah pasangan ini menjadi potret buram ketimpangan dan lemahnya pendataan warga miskin. Mereka tidak butuh kasihan, tapi perhatian dan tindakan nyata.
Hingga berita ini ditayangkan belum ada tindak lanjut dari instansi terkait.
(Red/Dav)








