SUMENEP, NETSATU.COM.- pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.H.Moh.Anwar Kabupaten Sumenep terus terus tunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas, dan cepat, hal ini terbukti bahwa RSUD Sumenep menjadi pusat konsolidasi penting dalam kegiatan Sinergi dan Kolaborasi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat yang melibatkan berbagai lembaga strategis nasional.
Kegiatan yang digelar di Ruang Pertemuan Lantai 3 RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep ini tidak sekadar menjadi forum koordinasi, tetapi juga momentum penegasan komitmen bersama untuk memperkuat kualitas layanan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi terhadap pelayanan yang cepat, transparan, dan tanpa sekat birokrasi.
Sejumlah tokoh penting hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pamekasan Galih Anjung Sari, Ketua YLKI Niti Emiliana, Kepala Pemeriksaan Laporan Ombudsman RI Ahmad Sobirin, Koordinator Tim Substansi BPKN Primasetya T. Jatmiko, Asisten Deputi Pengelolaan Informasi Pengaduan, serta jajaran Dinas Kesehatan dan manajemen RSUD Sumenep.
Direktur RSUD Sumenep, dr. Erliyati, M.Kes, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi refleksi sekaligus dorongan kuat bagi rumah sakit untuk terus berbenah dan menjawab ekspektasi masyarakat.
“Demi peningkatan mutu layanan JKN, kami menyadari bahwa tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi adalah keharusan. Kami terus membuka diri seluas-luasnya agar pelayanan kesehatan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa RSUD Sumenep saat ini terus berada dalam proses transformasi layanan yang berkesinambungan, dengan fokus pada perbaikan alur pelayanan, percepatan respons pengaduan, serta penguatan komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien.
“Kami tidak ingin pelayanan berhenti pada rutinitas. Setiap hari harus ada perbaikan. Karena bagi kami, setiap keluhan masyarakat adalah sinyal penting yang harus segera dijawab dengan tindakan nyata,” imbuhnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kegiatan telusur lapangan menjadi instrumen penting untuk melihat kondisi pelayanan secara nyata di seluruh unit, tanpa rekayasa dan tanpa sekat formalitas.
“Apa yang terlihat di lapangan adalah cermin sebenarnya dari pelayanan kami. Dari situ kami bisa mengidentifikasi dengan jelas titik-titik yang harus segera diperbaiki,” ungkapnya.
Sementara itu, Focus Group Discussion (FGD) menjadi ruang strategis untuk mengurai temuan dan merumuskan solusi bersama secara terbuka dan terukur.
“FGD ini adalah ruang kerja bersama. Semua temuan dibahas secara transparan, lalu dirumuskan menjadi langkah perbaikan yang bisa segera dijalankan,” tegasnya.
Menutup keterangannya, dr. Erliyati berharap sinergi lintas lembaga ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi gerakan nyata yang terus hidup dalam setiap lini pelayanan.
“Demi masyarakat, kami ingin memastikan perubahan ini benar-benar terasa. Bukan hanya di atas kertas, tetapi hadir dalam bentuk pelayanan yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih manusiawi,” pungkasnya.
Sinergi lintas lembaga ini diharapkan menjadi titik awal penguatan reformasi layanan kesehatan yang lebih responsif dan berkelanjutan. Sebab, keberhasilan bukan pada besarnya forum yang digelar, melainkan pada perubahan nyata yang dirasakan masyarakat di ruang-ruang pelayanan kesehatan.
( Red/Dav )








